Disini, di ramai yang sepi, di gelap yang terang, di dalam hujan yang kekeringan, dan di dalam basah yang kerontang.
Diam dalam jebakan tak kasat mata. Memaksa rasa untuk menjelma menjadi aksara.
Atas nama waktu, yang kurasa dulu hanyalah ilusi. Berjalan seolah nyata tapi hampa. Atau memang nyata. Hanya ketidakmampuanku untuk bisa rasa.
Atas nama ruang, yang rasanya ada tapi entah dimana. Menyisakan batas yang entah apa namanya. Menyesakkan dada. Melilit raga. Melemparku ke udara. Lalu menjatuhkanku kembali.
Selama ini, tak ada kata tak berdaya yang punya makna bagiku. Dia hanya sebatas jelmaan iblis yang berusaha hancurkan tamengku. Dengan sia-sia.
Dan kini, walau kukenakan baju zirah setebal baja. Walau kurasa cukup kuat diri punya jiwa. Nyatanya tetap tak mampu taklukan panji-panji di depan mata.
Dan akhirnya, pedang itu tetap menghunus raga.
Aku kalah.
Aku jatuh cinta.











